Data log yang diperoleh dari catatan internal mencerminkan realitas menyedihkan di lingkungan kerja. Pada Juni 2025, seorang desainer terpaksa bekerja rata-rata 11,5 jam setiap harinya, yang menunjukkan beban kerja yang sangat berat dan tidak sehat.
Saat situasi tersebut semakin memburuk, pada Agustus 2025, karyawan tersebut harus menjalani pola kerja yang sangat melelahkan dengan 18 hari berturut-turut tanpa libur. Hal ini menjadi indikasi bahwa tekanan yang dialami bukan sekadar insiden sementara, melainkan kondisi rutin yang berlangsung berbulan-bulan di IICOMBINED.
Akibat dari tuntutan kerja yang berlebihan, tekanan fisik dan mental menghantui banyak desainer. Satu karyawan mengaku harus mengonsumsi obat-obatan untuk dapat terus berfungsi di tempat kerja. Dia juga mendapatkan diagnosis resmi berupa gangguan kecemasan dan depresi akibat suasana kerja yang sangat tidak mendukung dan mengabaikan kebutuhan istirahat.
“Saya sering pergi untuk mendapatkan infus. Saya sering sakit. Tanggung jawab yang ditempatkan pada individu tak tertahankan,” ungkapnya, “Saya bahkan bekerja sambil mengonsumsi obat anti-kecemasan,” tambahnya.
Kondisi Kerja Menyakitkan yang Dihadapi Karyawan
Lingkungan kerja dapat memberikan dampak besar pada kesehatan mental dan fisik karyawan. Pada kasus ini, tekanan konstan yang dihadapi oleh para desainer menciptakan beban yang hampir tidak tertahankan. Beberapa di antaranya bahkan merasakan dampak ini sehari-hari.
Studi menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang dan tidak seimbang dengan waktu istirahat dapat memicu masalah kesehatan serius. Tidak mengherankan, banyak karyawan yang merasa terjebak dalam siklus yang tidak berujung ini, menciptakan suasana kerja yang sangat merugikan.
Dalam jangka panjang, situasi ini dapat menimbulkan masalah yang lebih serius, seperti kelelahan parah atau bahkan masalah kesehatan yang lebih mendalam. Ada kebutuhan yang mendesak untuk mereformasi cara kerja agar karyawan memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Dampak Kesehatan Mental yang Terjadi
Ketidakadilan di tempat kerja sering kali berkontribusi pada masalah kesehatan mental yang akut. Karyawan yang mengalami tekanan berlebihan cenderung mengalami gejala stres yang lebih tinggi, yang dapat berpotensi mengarah pada depresi. Ini adalah isu serius yang memerlukan perhatian segera dari pihak manajemen.
Di banyak perusahaan, stigma seputar kesehatan mental masih kuat, sehingga banyak karyawan enggan untuk berbicara tentang masalah yang mereka hadapi. Padahal, lingkungan kerja yang mendukung bisa membuat perbedaan yang signifikan dalam kesejahteraan karyawan.
Para ahli kesehatan merekomendasikan pentingnya membangun budaya kerja yang lebih sehat. Upaya untuk menciptakan ruang aman bagi karyawan untuk mengekspresikan diri bisa menjadi langkah awal untuk mengatasi isu ini.
Solusi untuk Mengatasi Masalah Kelelahan Kerja
Penting bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi terhadap beban kerja karyawan. Melakukan survei tentang kesejahteraan karyawan dapat memberikan wawasan berharga mengenai masalah yang ada. Dengan pemahaman lebih baik tentang pengalaman karyawan, perusahaan bisa membuat kebijakan yang lebih ramah.
Implementasi program kesejahteraan di tempat kerja juga bisa menjadi jalan keluar yang efektif. Program-program ini tidak hanya akan membantu mengurangi stres, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Beberapa perusahaan berhasil dengan memberikan sesi yoga, meditasi, atau bahkan konseling profesional.
Selain itu, manajemen perlu mendengarkan suara karyawan dan menunjukkan empati terhadap pengalaman mereka. Dengan demikian, tercipta lingkungan kerja yang lebih mendukung dan berkelanjutan, di mana karyawan dapat merasa dihargai dan diperhatikan.
